Senin, 28 November 2011

Ice cream & renang = penenang

Ice cream yang manis, lembut dan dingin......
 Air yang banyak dan wangi kaporit.....

Aliran dopamin.....

Minggu, 27 November 2011

Perbencian membenci kebencian

Saya benci cacing, mungkin karena tubuhnya yang gemulai yang membuat saya selalu merasa geli setiap kali tanpa sengaja tubuh lemah itu tersentuh dan ide mengenai kegelian itu terus tertanam dalam memori yang selalu akan hadir setiap kali sebentuk mahluk itu muncul di hadapan saya. Saya benci cacing dengan kelembutannya, mungkin sama dengan saya membenci kelembutan yang hadir di antara relasi sesama manusia yang seringkali addictive. Saya benci bahwa saya tidak dapat menolak untuk menikmati kelembutan kosong yang selalu hadir seperti cacing yang menggemburkan tanah lalu pergi menuju tanah tandus lainnya. Saya benci karena saya benci tapi tidak sanggup menegasikan hal yang saya benci, malahan saya larut di dalamnya untuk jangka waktu yang tidak dapat ditentukan dan baru akan tersadar bahwa saya merindukan hidup yang sarkastik ketika satu-persatu bias itu tersingkap.
(tulisan ini dibuat berdasarkan permintaan pemirsa(apa deh). ketidakrelevanan dg fakta2 empiris mohon dimaklumi (makin ga jelas).)


Kosong!

"Bohong!Semua bohong!gw gak percaya!"
kalimat di atas merupakan sebuah seruan yang mencoba merepresentasikan pemikiran Bertrand Russel seorang filsuf Inggris yang membidangi filsafat analitik. Mari kita lupakan soal Russel dan memfokuskan perhatian kita pada term 'bohong'. Salah seorang teman bilang 'bohong bukan soal kata-kata yang kita ucapkan, tapi pemikiran yang kita coba tanamkan pada subjek lain. Mungkin benar. Mungkin.
Bagi saya term 'bohong ini mempunyai relasi dengan 'kekosongan. Kekosongan dari kata-kata.Kekosongan dari sebuah relasi. Kekosongan dari sebuah tindakan. Jika kita berangkat dari kategori imperative yang menyatakan bahwa bohong adalah salah tanpa mempertimbangkan konsekuensi maupun nilai pragmatisnya, maka semua yang dibangun dari awal ini merupakan kesalahan. Akumulasi dari kekosongan yang dibubuhi bias hingga terlihat mempunyai isi. dan saat bias itu disingkap apalagi yang dapat terlihat selain...kosong!

Senin, 21 November 2011

Bias

Kant menyebut 12 kategori sebagai formal asparatus untuk menjelaskan bias subjektif manusia dalam memahami objek. Tidak ada isomorfis, hanya fenomena dan noumena. Fenomena selalu hadir bersama bias. Sayangnya, hanya fenomena inilah yang dapat ditangkap manusia. Selalu dan selalu tidak ada yang terjelaskan dengan pasti, seperti batas horizon yang semakin pudar ketika di dekati, seperti itu juga matahari. Matahari senja yang kita lihat begitu indahnya juga hadir bersama bias, bias dari atmosfer bumi yang menyembunyikan wajah matahari yang sebenarnya.

Seikat rambut

Manusia sangat cepat bosan. Saya bosan. Bosan mengalami pengalaman yang selalu kembali meski tidak identik. Saya potong rambut saya ketika saya bosan dengan panjangnya yang merepotkan. Anehnya kali ini saya belum merasa bosan, malah rambut panjang ini terlihat manis (buat saya). Tapi saya memotongnya dan merasa nyaman. Baru kali ini saya merasa puas, tidak sedikitpun menyesal dengan hasil karya orang. Mungkin bukan hasilnya yang benar-benar membuat saya nyaman.Tapi perasaan kosong yang datang setiap kali rambut itu disentuh oleh gunting, lalu terjatuh ke lantai. Rasanya sedikit demi sedikit beban di kepala saya ikut jatuh. Andai pikiran-pikiran sampah itu dapat dibuang seperti helaian-helaian rambut yang disapu  tanpa perlawanan.

Sabtu, 19 November 2011

Bunuh Diri Cuma Impian

Punya banyak teman selalu terlihat menyenangkan, tapi yang lebih menarik adalah punya teman dengan banyak pemikiran. Selalu ada yang menarik dalam diskusi kami, meskipun hampir selalu berakhir tanpa akhir. Tentang bunuh diri. Ini semacam cita-cita yang sering kami impikan, semacam janji yang sering kami ucapkan. Berbagai alasan dan metode bunuh diri pernah tersebut, tapi tanggal untuk bunuh diri tidak pernah tercatat. Saya terlalu bosan menjalani hidup yang kurang pikir. dia terlalu bosan menjalani hidup yang terlalu banyak pikir. Sebagaimana banyak alasan untuk bunuh diri, kami juga punya banyak alasan untuk tidak bunuh diri atau setidaknya menunda cita-cita itu. Argumen-argumen (yang terdengar) logis diucapkan, tapi tidak pernah cukup untuk mengafirmasi atau menegasikan cita-cita macam ini. Bunuh diri cuma impian!