Kant menyebut 12 kategori sebagai formal asparatus untuk menjelaskan bias subjektif manusia dalam memahami objek. Tidak ada isomorfis, hanya fenomena dan noumena. Fenomena selalu hadir bersama bias. Sayangnya, hanya fenomena inilah yang dapat ditangkap manusia. Selalu dan selalu tidak ada yang terjelaskan dengan pasti, seperti batas horizon yang semakin pudar ketika di dekati, seperti itu juga matahari. Matahari senja yang kita lihat begitu indahnya juga hadir bersama bias, bias dari atmosfer bumi yang menyembunyikan wajah matahari yang sebenarnya.
philosophy student yang suka sotoy, suka matahari, suka lollipop, suka air, suka gangguin orang, suka cerita
Senin, 21 November 2011
Seikat rambut
Manusia sangat cepat bosan. Saya bosan. Bosan mengalami pengalaman yang selalu kembali meski tidak identik. Saya potong rambut saya ketika saya bosan dengan panjangnya yang merepotkan. Anehnya kali ini saya belum merasa bosan, malah rambut panjang ini terlihat manis (buat saya). Tapi saya memotongnya dan merasa nyaman. Baru kali ini saya merasa puas, tidak sedikitpun menyesal dengan hasil karya orang. Mungkin bukan hasilnya yang benar-benar membuat saya nyaman.Tapi perasaan kosong yang datang setiap kali rambut itu disentuh oleh gunting, lalu terjatuh ke lantai. Rasanya sedikit demi sedikit beban di kepala saya ikut jatuh. Andai pikiran-pikiran sampah itu dapat dibuang seperti helaian-helaian rambut yang disapu tanpa perlawanan.
Sabtu, 19 November 2011
Bunuh Diri Cuma Impian
Punya banyak teman selalu terlihat menyenangkan, tapi yang lebih menarik adalah punya teman dengan banyak pemikiran. Selalu ada yang menarik dalam diskusi kami, meskipun hampir selalu berakhir tanpa akhir. Tentang bunuh diri. Ini semacam cita-cita yang sering kami impikan, semacam janji yang sering kami ucapkan. Berbagai alasan dan metode bunuh diri pernah tersebut, tapi tanggal untuk bunuh diri tidak pernah tercatat. Saya terlalu bosan menjalani hidup yang kurang pikir. dia terlalu bosan menjalani hidup yang terlalu banyak pikir. Sebagaimana banyak alasan untuk bunuh diri, kami juga punya banyak alasan untuk tidak bunuh diri atau setidaknya menunda cita-cita itu. Argumen-argumen (yang terdengar) logis diucapkan, tapi tidak pernah cukup untuk mengafirmasi atau menegasikan cita-cita macam ini. Bunuh diri cuma impian!
Rabu, 07 September 2011
Sabtu, 27 Agustus 2011
Dunia sophie, Gadis Jeruk & Galaksi
Jostein Gaarder seorang guru filsafat di Swedia telah menulis sebuah novel yang menjadi best seller dunia. 'Dunia Sophie' yang bercerita tentang gadis berusia 14 tahun yang secara tiba-tiba mendapatkan pelajaran filsafat dari Alberto Knag. Novel ini penuh dengan pemikiran filsuf-filsuf dari zaman Yunani hingga abad modern. Sebagai mahasiswa filsafat seharusnya novel ini membantu saya dalam memahami materi perkuliahan di filsafat karena saya memang harus mempelajari sejarah filsafat yunani, abad pertengahan, dan modern. Namun yang saya ingat dari novel ini bukanlah pemikiran Socrates atau Descartes, tapi ada hal lain yang lebih menarik. Galaksi, semesta, tahun cahaya, melihat masa lalu bintang-bintang. Bahwa saat memandang bintang yang jaraknya ratusan tahun cahaya kita hanya dapat menyaksikan masa lalunya. Bahwa cahaya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh mencapai bumi.
Lalu saya memenukan satu lagi novel karya penulis yang sama. 'Gadis Jeruk' bercerita tentang seorang anak laki-laki 15 tahun yang secara tiba-tiba juga mendapatkan surat dari ayahnya yang telah meninggal sekitar 11 tahun. Kali ini ceritanya agak bertele-tele karena diawali dengan kisah cinta mahasiswa kedokteran dengan seorang gadis jeruk. Kemudian mereka mendewasa dan mempunyai seorang anak Georg Roed. Georg Roed yang berusia 15 tahun baru mengenali ayahnya lewat surat yang selama sebelas tahun tersimpan di dalam lapisan kereta bayi. Ayahnya yang ketakutan menghadapi kematian mengajukan pertanyaan "Manakah yang akan kau pilih: Terlahir di dunia dan menjalani dongeng kehidupan lalu berakhir dengan mati atau tidak pernah menginjak bumi samasekali?". Pertanyaan yang sulit. Tapi sekali lagi bukan hal semacam itu yang saya ingat dari novelnya. ada sesuatu yang lebih menarik. Tentang semesta, tentang galaksi yang mengembang, tentang indra kosmik. Bahkan penerbit berbaik hati mencantumkan alamat website yang bisa membantu kita melihat laporan yang dikirimkan oleh teleskop hubble atau yang ayah Georg sebut sebagai mata semesta.
Mari menikmati hasil persepsi indera kosmik dengan mengunjungi link di bawah ini
Selasa, 23 Agustus 2011
Ironi, menyedihkan, menyeramkan
Nama : Bintang laut merah
Otak : tidak punya
Gerak : mengikuti arus laut
Senin, 22 Agustus 2011
judul: masih dipikirkan
Kami mendewasa seperti bumi yang menua
Kebosanan semakin sering datang
Di tengah malam, di awal pagi, di penghujung siang
Bumi hanya sebundaran ini
Kami akan bertemu kamu lagi, kamu lagi, kamu lagi
Dalam nama yang berbeda
Hanya nama yang beda
Kami selalu ingin melarikan diri
Anehnya, kami akan selalu kembali
Bukan ke tempat yang sama
Tapi situasi yang sama
Karena bumi hanya sebundaran ini
Langganan:
Komentar (Atom)