Senin, 21 November 2011

Seikat rambut

Manusia sangat cepat bosan. Saya bosan. Bosan mengalami pengalaman yang selalu kembali meski tidak identik. Saya potong rambut saya ketika saya bosan dengan panjangnya yang merepotkan. Anehnya kali ini saya belum merasa bosan, malah rambut panjang ini terlihat manis (buat saya). Tapi saya memotongnya dan merasa nyaman. Baru kali ini saya merasa puas, tidak sedikitpun menyesal dengan hasil karya orang. Mungkin bukan hasilnya yang benar-benar membuat saya nyaman.Tapi perasaan kosong yang datang setiap kali rambut itu disentuh oleh gunting, lalu terjatuh ke lantai. Rasanya sedikit demi sedikit beban di kepala saya ikut jatuh. Andai pikiran-pikiran sampah itu dapat dibuang seperti helaian-helaian rambut yang disapu  tanpa perlawanan.

Sabtu, 19 November 2011

Bunuh Diri Cuma Impian

Punya banyak teman selalu terlihat menyenangkan, tapi yang lebih menarik adalah punya teman dengan banyak pemikiran. Selalu ada yang menarik dalam diskusi kami, meskipun hampir selalu berakhir tanpa akhir. Tentang bunuh diri. Ini semacam cita-cita yang sering kami impikan, semacam janji yang sering kami ucapkan. Berbagai alasan dan metode bunuh diri pernah tersebut, tapi tanggal untuk bunuh diri tidak pernah tercatat. Saya terlalu bosan menjalani hidup yang kurang pikir. dia terlalu bosan menjalani hidup yang terlalu banyak pikir. Sebagaimana banyak alasan untuk bunuh diri, kami juga punya banyak alasan untuk tidak bunuh diri atau setidaknya menunda cita-cita itu. Argumen-argumen (yang terdengar) logis diucapkan, tapi tidak pernah cukup untuk mengafirmasi atau menegasikan cita-cita macam ini. Bunuh diri cuma impian!

Sabtu, 27 Agustus 2011

Dunia sophie, Gadis Jeruk & Galaksi

Jostein Gaarder seorang guru filsafat di Swedia telah menulis sebuah novel yang menjadi best seller dunia. 'Dunia Sophie' yang bercerita tentang gadis berusia 14 tahun yang secara tiba-tiba mendapatkan pelajaran filsafat dari Alberto Knag. Novel ini penuh dengan pemikiran filsuf-filsuf dari zaman Yunani hingga abad modern. Sebagai mahasiswa filsafat seharusnya novel ini membantu saya dalam memahami materi perkuliahan di filsafat karena saya memang harus mempelajari sejarah filsafat yunani, abad pertengahan, dan modern. Namun yang saya ingat dari novel ini bukanlah pemikiran Socrates atau Descartes, tapi ada hal lain yang lebih menarik. Galaksi, semesta, tahun cahaya, melihat masa lalu bintang-bintang. Bahwa saat memandang bintang yang jaraknya ratusan tahun cahaya kita hanya dapat menyaksikan masa lalunya. Bahwa cahaya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh mencapai bumi.

Lalu saya memenukan satu lagi novel karya penulis yang sama. 'Gadis Jeruk' bercerita tentang seorang anak laki-laki 15 tahun yang secara tiba-tiba juga mendapatkan surat dari ayahnya yang telah meninggal sekitar 11 tahun. Kali ini ceritanya agak bertele-tele karena diawali dengan kisah cinta mahasiswa kedokteran dengan seorang gadis jeruk. Kemudian mereka mendewasa dan mempunyai seorang anak Georg Roed. Georg Roed yang berusia 15 tahun baru mengenali ayahnya lewat surat yang selama sebelas tahun tersimpan di dalam lapisan kereta bayi. Ayahnya yang ketakutan menghadapi kematian mengajukan pertanyaan "Manakah yang akan kau pilih: Terlahir di dunia dan menjalani dongeng kehidupan lalu berakhir dengan mati atau tidak pernah menginjak bumi samasekali?". Pertanyaan yang sulit. Tapi sekali lagi bukan hal semacam itu yang saya ingat dari novelnya. ada sesuatu yang lebih menarik. Tentang semesta, tentang galaksi yang mengembang, tentang indra kosmik. Bahkan penerbit berbaik hati mencantumkan alamat website yang bisa membantu kita melihat laporan yang dikirimkan oleh teleskop hubble atau yang ayah Georg sebut sebagai mata semesta.

Mari menikmati hasil persepsi indera kosmik dengan mengunjungi link di bawah ini





Selasa, 23 Agustus 2011

Ironi, menyedihkan, menyeramkan


Nama                    : Bintang laut merah
Otak                      : tidak punya
Gerak                    : mengikuti arus laut

Bagaimana ada mahluk semacam ini? Apa ini bentuk kekejaman Tuhan? Mereka tak punya otak, bergerak hanya mngikuti arus air laut. Untuk apa mereka hidup? Hanya mengikuti arus? Ini adalah cara hidup paling menyeramkan yang pernah kudengar.          

Senin, 22 Agustus 2011

judul: masih dipikirkan


Kami mendewasa seperti bumi yang menua
Kebosanan semakin sering datang
Di tengah malam, di awal pagi, di penghujung siang

                Bumi hanya sebundaran ini
                Kami akan bertemu kamu lagi, kamu lagi, kamu lagi
                Dalam nama yang berbeda
                Hanya nama yang beda

Kami selalu ingin melarikan diri
Anehnya, kami akan selalu kembali
Bukan ke tempat yang sama
Tapi situasi yang sama
Karena bumi hanya sebundaran ini

Selasa, 12 Juli 2011

Akselerasi


Kurang dari satu jam Ishtar akan meninggalkan tempat ini menuju tanah berdebu di kaki Bromo yang menghindarkannya dari kekacauan di Jakarta. Kereta sudah terparkir rapi di jalur 4, gerbong-gerbongnya seperti memanggil Ishtar untuk segera menaiki kendaraan yang akan melaju pada pukul 15.00 itu. Tapi ada suara lain yang berdengung-dengung di kepala Ishtar. Dia seperti mendengar langkah kaki. Ya, langkah kaki yang semakin kencang seakan pemiliknya diburu kawanan monster dari antah berantah. Suara itu membawa Ishtar melangkah menjauhi peron. Dia tidak akan membatalkan perjalanannya tentu saja. Hanya ingin melihat apa kiranya kejadian yang telah diwanti-wanti oleh suara misterius itu. Semakin dekat Ishtar dengan pintu keluar, semakin kencang suara itu berdengung di kepalanya. Dan ada satu suara lagi, suara decitan ban mobil yang diikuti oleh dentuman cukup keras yang kali ini terdengar begitu nyata. Senyata pemandangan mobil yang terantuk-antuk menabrak pagar stasiun demi menghindari sesosok manusia yang sejak tadi langkahnya berdengung-dengung di kepala Ishtar. Sosok itu kini tergeletak terlindas mobil lain yang melaju kencang di belakang mobil naas tadi.
Ishtar terpaku di tempatnya berdiri, tidak ada daya yang dapat menghantarnya menghampiri sosok yang kini dikerubungi masa. Hanya airmatanya yang meleleh-leleh tak terkendali. Dan dari bulir-bulir itu menyeruak memori-memori yang telah dia tekan ke dalam alam bawah sadarnya. Memori itu menyerbu keluar melewati batas tembok yang dibangun Ishtar dengan sisa-sisa kesadarannya saat semua kejadian menuntunnya pada kegilaan yang paling menyakitkan. Kegilaan yang melemparkannya ke tong sampah setelah sebelumnya menikmati kebahagiaan tak terperi bersama sosok yang kini dibawa ambulans yang meraung-raung menghadirkan udara kesunyian yang langsung menyergap paru-paru Ishtar.  Dia ingin mengejar ambulans itu, tapi masih tak ada daya. Sebaliknya, dia malah tejatuh di lantai putih itu. Pelataran stasiun yang tadi ramai oleh penumpang-penumpang dan pedagang berubah menjadi sebuah ruangan kecil yang sunyi. Ishtar berdiri menghadap seorang laki-laki yang terduduk di meja kerjanya. Kertas-kertas berserakan di ruangan itu. Ilustrasi dongeng anak-anak yang terbengkalai di lantai itu seolah menganalogikan perasaan Ishtar yang berputar mengejar dan dikejar memori yang sebenarnya ingin dia buang. Ishtar memungut selembar kertas yang tergeletak di kaki meja. Itu bukan sebuah ilustrasi dongeng. Itu adalah ilustrasi perasaan orang yang menggambarnya. Sebuah sketsa kabur yang membentuk wajah seorang wanita. Rambutnya ikal melambai-lambai dan sorot matanya begitu tajam menghujam ke satu titik. Pedih adalah realita yang mencuat dari gambar itu. Itulah yang dirasakan orang yang menggambarnya setiap kali melihat Ishtar marah. Dewi yang satu ini terlalu pencemburu hingga laki-laki itu merasa tercekik. Dia merasa tergenggam terlalu kuat, hingga akhirnya mencoba berontak. Saat itulah Ishtar melepasnya. Baginya, pemberontakan itu merupakan pengkhianatan terhadap konsistensi dan kerelaan yang mereka ikat dalam pertalian ini. Ishtar memang pemarah, pencemburu, tapi bukan pemaksa. Dia tak akan menahan angin yang sudah memaksa ingin keluar dari paru-parunya. Dia tidak akan menahan airmata yang ingin keluar menangisi kekalahannya.
Sesuatu membangunkannya. Pengeras suara di stasiun itu berdengung-dengung. Selanjutnya terdengar suara seorang operator menginformasikan jadwal keberangkatan kereta. Kereta yang akan membawa Ishtar akan berangkat dalam waktu kurang dari lima menit, penumpang dipersilahkan segera naik atau akan ditinggalkan kendaraan angkuh itu. Ishtar berdiri, mengangkat kopernya namun dijatuhkan lagi. Ia berlari menuju peron diikuti beberapa orang yang ingin naik kereta yang sama. Orang yang tadi berlari di belakangnya kini sudah berada di dalam kereta, tapi Ishtar tidak. Dia tidak menaiki kereta itu. Sebaliknya dia terus berlari sejajar dengan garis lintasan kereta yang akan segera berangkat itu. Dia berlari kesetanan, seperti mengejar sesuatu entah apa. Dia merasa harus berada cukup jauh dari kereta itu sebelum peluit tanda keberangkatan dibunyikan. Orang-orang mengabaikannya, Ishtar terus berlari. Peluit dibunyikan, mesin dari kereta mulai mengeluarkan suara yang mengerikan. Perlahan roda berputar mengarungi rel, terdengar suara berdesing. Kereta mulai mengalami akselerasi seiring semakin cepatnya Ishtar berlari menjauh. Akserelasi penuh, kereta melesat mengejar Ishtar yang masih berlari kencang. Dan pada satu titik, pada satu momentum dimana kereta sudah tak dapat melakukan gerakan mundur. Ishtar melompat. Teriakan histeris mengalahkan desing mesin kereta yang terus melaju kencang meninggalkan tubuh yang terpelanting tigapuluh lima meter dari jalur kematian itu. Tubuh itu, materi yang hancur itu menjadi sketsa nyata perasaan orang yang meninggalkannya. Jiwa yang memaksa mempercepat langkahnya kembali ke dunia idea demi merasakan kembali eksistensi kekasihnya.